Tampilkan postingan dengan label Kontemplasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kontemplasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Oktober 2010

Helen of Troy

Helen of  Troy, mungkin perwujudan Dewi Kayangan yang kakinya berpijak di bumi. Kecantikannya sanggup membius Pahlawan-Pahlawan Yunani tempo dulu untuk saling menumpahkan darah dalam laga perang yang berkecamuk selama 10 tahun. Ribuan kapal perang dikerahkan oleh Yunani untuk menggempur Negara Troya yang salah satu Pangerannya (Paris) telah menculik Helen dari seorang Raja Yunani yang sangat berkuasa. Alih-alih menyerahkan Helen kembali kepada Sang Raja Yunani, Negara Troya malah lebih memilih perang dan itu berarti mempertaruhkan ribuan nyawa prajuritnya bahkan mempertaruhkan peradaban Troya untuk masuk ke gerbang kehancuran. 

10 tahun dalam peperangan, tak terhitung nyawa prajurit dan pahlawan perang yang meregang meninggalkan raga. Anyir darah dan bau busuk bangkai menyeruak di  seantero Troya yang mulai menjadi kepingan-kepingan sejarah. Troya, sebuah Negara yang makmur dan tangguh toh akhirnya hilang dan rata dengan tanah. Betapa mahalnya arti kecatikan dari Helen of Troy. Dengan kalimat yang sedikit berbeda, "Betapa mahalnya sebuah arti Cinta", atau mungkin "Sebegitu egoisnyakah cinta Paris dan Helen sehingga harus ditukar dengan sebuah tragedi suatu Bangsa?"

Senin, 20 September 2010

Yang Tua, Yang Takut Perubahan

Ini bukan kisah tentang Reformasi di Negeri Indonesia yang disuarakan tahun 1998, ini hanya sebuah kisah sepenggal pengalaman pribadi tanpa tendensi untuk menggeneralisasi setiap individu.

Alkisah suatu hari, Aku masuk ke sebuah warnet setelah berbilang tahun tak pernah bisa mengakses internet karena bertempat tinggal jauh dari peradaban. Sewaktu masih jadi mahasiswa dan mengklaim diri sebagai Net Generation angkatan I di Indonesia, tentu saja dulunya Aku sering mengakses informasi lewat internet . Di depan komputer dengan sangat PD-nya Aku  mencari shortcut Internet Explorer dan waaah koq ndak ada ya? agak dongkol juga sih, masa di warnet yang tujuan utamanya orang berkunjung untuk main internet koq icon IE ndak ada di tampilan desktop? Langkah selanjutnya tentu  bisa diterka, Yaa tentu saja aku terpaksa cari IE lewat Start, All Program, dan bla-bla-bla. Keringat dingin mulai keluar lewat pori-pori di keningku, karena Aku tetap tidak menemukan IE dan sambil menggeleng-gelengkan kepala, Aku berguman pelan; Di mana ditaruhnya program IE di komputer ini? Mau tidak mau dengan mengkesampingkan sedikit rasa malu yang hinggap, terpaksa aku tanya ke penjaga warnet, 'Mbak, Internet Explorernya koq ndak ada ya?" OOh itu Mas, pake Mozilla aja, karena emang Internet Explorernya ndak kami pasang'. Heran juga Aku mendengar jawaban dari Mbak ini, Mozilla? ehm jadi inget film Godzilla, film pertama yang Aku tonton di bioskop dengan special someone. Terpaksa deh akhirnya aku gunakan Modzilla untuk browsing walau dengan sedikit rasa agak was-was dan ndak nyaman karena mungkin menghadapi hal yang baru sekalipun hanya berupa web browser. Setelah selesai browsing dan sempat ngobrol-ngobrol sedikit dengan Mbak penjaga warnetnya, akhirnya Aku tahu bahwa ndak dipasangnya IE karena pengunjung lainnya (mereka biasanya anak-anak muda) ndak memakai IE untuk browsing, katanya sih mereka lebih memilih Mozilla.

Tunggu dulu, jangan pindahkan channel karena itu baru cerita pertama. Cerita kedua masih tentang pengalaman pribadi dan terjadi pada saat jamannya peralihan dari Ms Office 2003 ke Ms Office 2007. Pertama kali Aku gunakan Ms Office 2007, Aku merasa ndak sreg karena memang beda tampilan menu-menunya kan? Nyari Menu File-nya susah banget karena memang diganti dengan sebiah ribbon. Wuih untuk beberapa waktu, Aku masih lebih memilih menggunakan Ms Office 2003 karena memang sudah sangat familier. Keliatan bangetkan kalau Aku sangat takut perubahan? Pada waktu itu umurku belum genap 30 tahun. Gimana nanti kalau umurku sudah 40 atau 50 tahun? Mungkin tambah susah untuk beradaptasi dengan sebuah perubahan. Biasa, dengan sangat terpaksa akhirnya Aku menggunakan produk baru (Office 2007) karena kadang aku harus mengedit file yang ber-extention docx yang tentu saja tidak bisa aku lakukan di komputerku yang menggunakan word 2003. Padahal setelah terbiasa dengan Office 2007, lebih enakkan menggunakannya dibandingkan Office 2003? Sekarang, Aku sedang berpikir untuk ke Office 2010 dan karena sudah punya sedikit pengalaman menghadapi perubahan, ngapain takut????

Sabtu, 11 September 2010

Banyaknya yang Fakir di Sekitar Kita Sekarang Ini?

Idul Adha 1985, Aku diajak oleh kakakku untuk mengantri pada acara pembagian daging kurban di kompleks perumahan Pertamina yang berada tak jauh dari kampungku. Saat itu aku kelas I dan kakakku kelas VI SD. Buat aku dan kakakku, mendapat jatah daging kurban pada Idul Adha merupakan kesenangan tersendiri bukan hanya karena nikmatnya sate kambing yang kami rasakan nanti tapi juga karena merasa bangga jika dapat membawa daging kurban untuk dinikmati bersama keluarga kami di rumah. Rasanya seperti menjadi Superman Sang Pahlawan untuk keluarga kami.Hal itu disebabkan karena hanya dapat merasakan makan daging rendang pada hari Idul Fitri dan bisa menikmati lezatnya sate kambing di hari Idul Adha. Hari-hari biasa, kami hanya ketemu tempe dan tahu paling banter telur.

Di Kompleks Perumahan ini sudah menjadi sebuah tradisi setiap Idul Adha menyembelih banyak hewan sapi dan kambing. Daging hewan kurban tadi mencukupi kalau tidak mau dibilang berlebih untuk dibagikan pada penduduk di sekitar kompleks yang mau mengantri untuk mendapat pembagian jatah daging kurban tadi. Antriannya jangan dibayangkan seperti antrian pembagian zakat sekarang ini yang banyak  kita saksikan di TV, sering ricuh karena saking banyaknya orang padahal hanya mengantri untuk uang 10.000 atau 20.000 rupiah, seingat Aku, waktu itu antriannya tertib dan mungkin disebabkan oleh jumlah pengantrinya yang memang tidak membludak. Menyaksikan ricuhnya acara pembagian zakat di masa sekarang sangatlah menyentuh hati dan mengiris-iris nurani serta memancing banyak pertanyaan dipikiranku. Tak terbayang jika demi 10.000 rupiah, orang-orang rela berdesak-desakkan, saling dorong, terinjak-injak bahkan sampai pingsan karena kelelahan. Menyedihkan bukan? Atau memang karena banyaknya yang fakir di sekitar kita sekarang ini? Aku merasa sangat kaya sekalipun mungkin sebenarnya aku masih terkategori sebagai si miskin, paling tidak Aku merasa beruntung tidak berada diposisi seperti mereka yang terpaksa harus ikut mengantri seperti itu karena tuntutan kebutuhannya. Ya, Aku mengerti, mereka terpaksa melakukan itu semua karena uang 10.000 rupiah sangat berarti apalagi di saat lebaran, saat harga-harga sembako merangkak naik tak terjangkau dan saat itu juga budget pengeluaran kita membengkak karena meningkatnya kebutuhan kita saat itu. Syukur sekaligus miris!!!!!!!