Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Agustus 2010

Dayak People


The Dayak or Dyak are indigenous to Borneo. It is a loose term for over 200 riverine and hill-dwelling ethnic subgroup, located principally in the interior of Borneo, each with its own dialect, customs, laws, territory and culture, although common distinguishing traits are readily identifiable. Dayak languages are categorised as part of the Austronesian languages in Asia. The Dayak were animist in belief; however many converted to Christianity, and some to Islam more recently. Estimates for the Dayak population range from 2 to 4 million.

History

The consensus interpretation in modern anthropology is that nearly all indigenous peoples of South East Asia, including the Dayaks, are descendants of a larger Austronesian migration from Asia, thought to have settled in the South East Asian Archipelago some 3,000 years ago. The first population spoke closely-related Austronesian language, from which Dayak language are traced. About 2,450 years ago, metallurgy was introduced; it later became widespread.

The Dayak people of Borneo posses an indigenous account of their history, partly in writing and partly in common cultural customary practices. In addition, colonial accounts and reports of Dayak activity in Borneo detail carefully-cultivated economic and political relationships with other communities as well as an ample body of research and study considering historical Dayak migrations. In particular, the Iban or the Sea Dayak exploits in the South China Seas are documented, owing to their ferocity and aggressive culture of war against sea dwelling groups and emerging Western trade interests in the 19th and 20th centuries.

Coastal population in Borneo are largely Muslim in belief, however these groups (Ilanun, Melanau, Kadayan, Bakumpai, Bisayah) are generally considered to be Islamized Dayaks, native to Borneo, and heavily influenced by the Javanese Majapahit Kingdoms and Islamic Malay Sultanates.

Rabu, 21 Juli 2010

Gue Ndak Suka Nonton Sinetron

Bukannya ingin provokatif lewat judul di atas tetapi sebagai orang Indonesia yang fanatik dengan produk lokal, saya berusaha dan sangat ingin untuk bisa terhibur dengan tayangan sinetron. Hasilnya justru sebaliknya, jangankan terhibur, yang ada malah perasaan prihatin, muak, dan bosan dengan alur ceritanya.

Prihatin? Karena terlihat hedonis (terlalu memuja kemewahan secara berlebihan) dan hal ini jauh berbeda dengan keadaan sebagian besar rakyat Indonesia yang harus berjuang untuk kesejahteraannya. Pelan tapi pasti, penonton seperti dipersiapkan untuk berpikiran pragmatis dalam hal mendapatkan kekayaan dan kemewahan. Mungkin orang yang kenal dengan Gayus Tambunan sebelum terkena kasus pajak, akan sangat silau melihat apa yang sudah diraih oleh Gayus. Jangan-jangan kita tidak menjadi Gayus hanya karena memang kita tidak ada kesempatan seperti di posisinya Gayus. Bagaimana kalau kita ada kesempatan dan peluang untuk korup? Kalau kita mau jujur, mungkin sangat sulit untuk tidak korup dengan dalam seperti ini.

Muak? Sinetron terlalu tegas dalam memandang hidup dengan hanya mengenal dua warna yaitu hitam dan putih. Seperti alunan lagu Jamrud "ini bukan kisah sinetron, yang sabar selalu menang di akhir episode". Dalam sinetron yang ada hanya orang baik bahkan kelewat baik dan orang jahat yang kelewat jahat. Kurang warna rasanya hidup ini kalau hanya hitam putih padahal kita mengenal warna abu-abu dan pelangi. Lihat saja citra Polisi di sinetron, pasti dicitrakan sangat baik dan tidak ada cerita tentang oknum Polisi yang berbuat menyimpang.

Bosan? Klasik masalahnya, alurnya berputar-putar dan gampang ditebak kelanjutan ceritanya bahkan akhir kisahnya.

Hanya opiniku saja dan hampir bisa dipastikan merupakan opini minoritas dibandingkan opini seluruh penduduk Indonesia dalam masalah ini. Sinetron tiap hari tayang di stasiun-stasiun tv Indonesia dan itu menunjukkan bahwa rating untuk acara sinetron cukup tinggi serta sangat digemari oleh pemirsa. Yang bisa aku impikan hanyalah sebuah harapan agar sinetron bisa berperan seperti media wayang dalam hal menanamkan pesan-pesan moral luhur budaya Timur ke alam bawah sadar Bangsa Indonesia.